Pada awalnya, tepat di bulan Januari, aku sedang menunggu sosok yang benar-benar serius untuk menjalin hubungan denganku. Ini adalah waktu yang penuh harapan, tapi juga penuh keraguan. Pada bulan itu, saudaraku menghubungiku melalui WhatsApp, mengabarkan bahwa ada teman yang ingin mencari pasangan hidup yang serius. Sebagai bagian dari upaya mengenalkanku kepada calon yang dianggap cocok, saudaraku mengirimkan foto calon suamiku tersebut. Pada saat itu, aku masih merasa ragu dan tidak terlalu tertarik, merespon dengan biasa saja.
Namun, tak lama kemudian, sebuah kejadian tak terduga terjadi. Saat sedang asyik membuka sebuah media sosial, aku secara tidak sengaja membaca obrolan di chat media sosial tersebut yang ternyata berasal dari calon suamiku. Aku membalas pesan tersebut tanpa mengetahui bahwa dia adalah teman dari saudaraku.Ketika dia mengungkapkan bahwa dia adalah teman dari saudaraku, aku mulai sedikit memperhatikan, meskipun responku tetap terkesan cuek.
Lelaki itu ternyata tidak menyerah begitu saja. Dia mengetahui bahwa aku berjualan hijab di salah satu media sosial, dan langsung memesan produk dariku. Dari situ dia semakin mencari cara agar bisa berkomunikasi denganku. Berbeda dengan kebanyakan orang yang mungkin akan langsung terburu-buru dalam pendekatan, dia memilih untuk sabar dan terus berusaha mencari momen yang tepat.
Pertemuan pertama kita memang tidak langsung memberikan kesan yang mendalam. Aku masih merasa ragu dan tidak percaya bahwa dia akan serius. Bahkan, sikapku pada pertemuan pertama itu cukup dingin dan judes. Tentu saja, ini adalah respons alami dari seseorang yang masih ingin memastikan apakah orang tersebut benar-benar serius.
Namun, pada pertemuan kedua, calon suamiku menunjukkan keseriusannya dengan cara yang sangat tulus. Dia tidak hanya sekadar berbicara tentang niatnya, tapi dia langsung meminta izin kepada orang tuaku untuk serius melangkah lebih jauh, yaitu untuk menikahiku. Momen ini tentu membuatku berpikir lebih dalam. Namun, meskipun dia sudah menunjukkan niat yang begitu baik, aku tetap merasa ragu dan belum bisa memberikan jawaban pasti.
Pada pertemuan ketiga, aku masih belum bisa memutuskan dan memberikan jawaban yang tegas. Namun, dengan kesabaran yang terus dia tunjukkan, dan sikap yang semakin meyakinkan, akhirnya aku mulai membuka hati. Niat baik, ketulusan, dan keseriusannya perlahan membuatku merasa lebih yakin. Aku akhirnya merasa bahwa dia adalah lelaki yang selama ini aku cari serta sosok yang mampu membuatku merasa tenang dan percaya.
Di pertemuan keempat, keputusan besar itu akhirnya aku ambil. Aku memberikan jawaban yang sangat penting, yaitu menerima calon suamimu dengan hati yang sudah terbuka. Keputusan ini adalah buah dari perjalanan panjang yang penuh dengan pertimbangan dan rasa ragu yang akhirnya terjawab dengan keyakinan.
Setelah menerima keputusan tersebut, segala sesuatunya berjalan begitu cepat. Calon suamiku segera menetapkan tanggal pernikahan, yaitu 13 April 2025. Tanggal ini menjadi simbol dari sebuah perjalanan yang dimulai dengan keraguan dan akhirnya mencapai titik keyakinan, dimana aku siap melangkah bersama dia menuju masa depan yang penuh harapan.
Kisah ini mengajarkan kita bahwa setiap hubungan membutuhkan waktu untuk berkembang dan saling memahami. Kesabaran, ketulusan, dan niat baik akan selalu membawa hasil yang indah, asalkan kita bersedia membuka hati dan memberikan kesempatan untuk saling mengenal satu sama lain. Keputusan untuk menikah adalah langkah besar, dan perjalanan ini menunjukkan betapa pentingnya keputusan yang datang dari hati yang tulus dan penuh keyakinan.